ini 4 Ancaman Kesehatan Saat Naik Pesawat dan Cara Mengatasinya

Melakukan sebuah perjalanan menuju destinasi menarik merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kamu yang suka travelling. Kamu yang sering berpergian menggunakan pesawat. sebaiknya mempersiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan, ada baiknya kamu turut mempersiapkan risiko gangguan kesehatan yang mengintai saat bepergian dengan pesawat.

Setidaknya, ada empat gangguan kesehatan yang timbul karena bepergian dengan menggunakan pesawat udara, berikut ulasan beserta tips untuk mencegahya

Jet Lag
Jetlag merupakan kondisi yang terjadi karena penumpang pesawat harus melintasi beberapa zona waktu, yang dapat memengaruhi jam biologis tubuh.

TIPS : Persiapan sebelum terbang:
Jika Anda berniat melintasi beberapa zona waktu, baiknya terbang saat masih pagi hari. Jika menuju ke arah barat, gunakan jam penerbangan malam hari. Jangan lupa makan makanan berprotein tinggi untuk meningkatkan kewaspadaan.

TIPS : Saat di udara:
Ubah jam Anda sesuai dengan waktu tujuan dan hindari dehidrasi yang dapat menyebabkan jet lag semakin parah dengan meminum banyak air.

TIPS : Saat tiba:
Jika Anda menuju belahan bumi timur saat malam hari, berjalanlah saat dini hari. Jika menuju barat, keluarlah pada sore hari. Jika diperlukan, lakukan tidur siang selama 20 menit untuk melepas kepenatan Anda. Makan makanan berkarbohidrat tinggi saat malam kedatangan Anda untuk menstimulasi serotonin dan melatonin yang dapat membuat Anda tertidur.

Dehidrasi
Dehidrasi terjadi karena menurunnya kelembapan di kisaran 15 persen akibat udara di dalam pesawat.

TIPS : Persiapan sebelum terbang:
Sebelum masuk ke dalam kabin pesawat, pastikan Anda membawa perbekalan air minum, meskipun untuk penerbangan singkat.

TIPS : Saat di udara:
Hindari alkohol dan kafein yang dapat memicu dehidrasi. Minum sekitar 230 mililiter atau segelas air minum setiap jam dalam penerbangan Anda.

TIPS : Saat tiba:
Tidak ada cara lain, minum lebih banyak lagi.

Penyumbatan pembuluh darah (Deep Vein Thrombosis atau DVT)
DVT terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di vena dalam, biasanya di betis. Kondisi ini terjadi jika melakukan perjalanan panjang dan inaktif, kelamaan tidak aktif bisa menyebabkan pembekuan.

Gumpalan yang lebih kecil akan pecah secara alami, tetapi yang lebih besar mungkin memblokir pembuluh darah, menyebabkan pembengkakan, nyeri dan perubahan warna kulit.

Kondisi ini menjadi fatal jika potongan bekuan darah lolos dan melakukan perjalanan ke paru-paru menyebabkan penyumbatan pembuluh darah paru-paru (PE), otak, atau jantung yang menyebabkan kerusakan parah, bahkan kematian.

TIPS : Persiapan sebelum terbang:
Jika Anda menderita DVT atau PE, baru saja melakukan operasi, sedang hamil atau menjalani terapi hormon, ataupun punya riwayat penyakit berbahaya lainnya, segera konsultasi dengan dokter Anda.

Penerbangan yang jauh dapat membutuhkan obat-obatan pengencer darah seperti heparin, atau alat kompres saat pembengkakan terjadi.

TIPS : Saat di udara:
Biarkan darah Anda mengalir dengan cara berjalan di lorong kabin. Atau dapat gunakan cara luruskan kaki Anda, lenturkan engsel, tarik ke atas dan rentangkan jari kaki Anda. Kemudian, dorong ke bawah dan lekukkan engsel Anda. Lakukan lima kali.

TIPS : Saat tiba:
Segera keluar dan berjalanlah. Serta tetap waspada jika Anda merasa tidak sehat, ataupun tarikan napas yang memendek. Tanda efek dari penyakit ini baru muncul beberapa pekan setelah penerbangan.

Hypoxic hypoxia
Hypoxic hypoxia merupakan hipoksia (kekurangan oksigen) yang terjadi karena menurunnya tekanan parsiil oksigen (O2) dalam paru-paru atau karena terlalu tebalnya dinding paru-paru. Jadi semakin tinggi pesawat terbang maka makin rendah tekanan barometernya. Akibatnya tekanan parsiil oksigen juga makin kecil.

TIPS : Saat di udara:
“Penerbang dan semua penumpang akan mengalami hal ini (hipoksia), tetapi untuk penerbang dan awak kabin sudah dilatih dengan menggunakan ‘Hypobaric Chamber Training’ sudah mengetahui gejala awal dan akan segera menggunakan O2 untuk mencegah gejala yang dapat berakibat fatal,” kata Soemardoko Tjokrowidigdo, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penerbangan Indonesia, dikutip dari detikHealth.

Soemardoko menekankan pentingnya menggunakan sabuk pengaman apabila duduk di pesawat. “Apabila Anda sedang duduk sebaiknya memakai sabuk pengaman sehingga apabila mendadak masuk atau mengalami turbulensi Anda tidak akan terlempar dari kursi,” sarannya.

TIPS : Saat tiba:
Segera keluar dan berjalanlah. Serta tetap waspada jika Anda merasa tidak sehat, ataupun tarikan napas yang lebih cepat dan dangkal dari biasanya.Warna Unyu

Facebook Comments